Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

New Policy: MBG Jalan Lagi, Harga Telur Naik Jadi Rp27.000 per Kg di Pasar Deprok Jakarta Barat

David Davis - aruskabar.com 4 mins read

rga Telur Ayam Melonjak di Pasar Deprok Jakarta Barat New Policy - Sebuah new policy baru-baru ini memicu perubahan signifikan dalam harga bahan pangan pokok

New Policy: MBG Jalan Lagi, Harga Telur Naik Jadi Rp27.000 per Kg di Pasar Deprok Jakarta Barat

Perubahan Kebijakan: Harga Telur Ayam Melonjak di Pasar Deprok Jakarta Barat

New Policy – Sebuah new policy baru-baru ini memicu perubahan signifikan dalam harga bahan pangan pokok di Pasar Deprok, Cengkareng, Jakarta Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang kembali dijalankan setelah sekian lama, secara langsung memengaruhi dinamika permintaan dan penawaran di pasar tradisional tersebut. Salah satu komoditas yang paling terkena adalah telur ayam, yang kini dijual dengan harga Rp27.000 per kilogram. Perubahan ini menimbulkan perhatian serius dari pedagang, pembeli, dan pihak terkait, karena menunjukkan dampak nyata dari new policy terhadap pasar.

MBG Kembali Berjalan: Dampak pada Pasar Tradisional

Kebijakan MBG, yang secara resmi diumumkan oleh pemerintah daerah setelah evaluasi dua tahun, bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi. Program ini dilaksanakan dengan cara menyalurkan telur ayam secara gratis kepada siswa sekolah dasar dan menengah, sebanyak 10.000 butir per hari. Namun, kebijakan ini ternyata tidak hanya memengaruhi konsumsi di lingkungan sekolah, tetapi juga mempercepat perubahan harga di Pasar Deprok. Pedagang di sana mengungkapkan bahwa kenaikan harga telur telah terjadi secara bertahap, mulai dari Rp24.000 menjadi Rp27.000 per kg dalam sebulan terakhir.

Kenaikan harga ini terjadi karena meningkatnya permintaan terhadap telur, baik dari masyarakat umum maupun dari institusi pendidikan. Meski jumlah siswa yang menerima telur gratis sekitar 15.000 orang per hari, kebutuhan pasar tetap meningkat. Ani, pedagang yang ditemui di toko perdananya, menjelaskan bahwa tingkat konsumsi telur yang naik menciptakan tekanan pada stok, sehingga produsen dan pedagang terpaksa menaikkan harga untuk menutupi biaya produksi yang meningkat. “Banyak pelanggan meminta telur dalam jumlah besar, tapi stok terbatas. Karena itu, kita harus meningkatkan harga agar bisa memenuhi permintaan,” kata Ani.

Kenaikan Harga: Fenomena yang Terjadi di Banyak Pasar

Perubahan harga telur di Pasar Deprok bukanlah kejadian isolasi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), harga telur ayam di tingkat produsen telah naik sekitar 12% sejak awal tahun 2026. Fenomena ini menyebar ke berbagai pasar tradisional di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, seperti Pasar Jatinegara dan Pasar Senen. Perusahaan distribusi mengatakan bahwa permintaan telur secara nasional telah meningkat hingga 18%, yang terutama dipicu oleh new policy MBG.

Selain telur, beberapa bahan pangan lainnya juga mengalami kenaikan harga, meski tidak sebesar telur. Tepung terigu dan beras, misalnya, naik sekitar 5-7% dalam bulan ini. Namun, telur menjadi komoditas paling volatif, karena mengalami kenaikan tajam dalam sebulan terakhir. Analis pasar mengatakan bahwa new policy ini mendorong efek domino di sektor pertanian dan perdagangan, terutama karena telur merupakan produk yang mudah terkena fluktuasi permintaan.

“Kenaikan harga telur ini tidak terlepas dari new policy MBG yang menambah volume konsumsi di kalangan masyarakat. Tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari orang dewasa dan ibu rumah tangga,” ujar Dian, ekonom pasar yang mengawasi perubahan harga di Jakarta Barat.

Analisis Kebijakan: Apakah Ini Berkembang Positif?

Dari sisi sosial, kebijakan MBG yang kembali dijalankan dinilai mampu meningkatkan kualitas gizi bagi anak-anak, terutama di lingkungan yang kurang mampu. Namun, dari sisi ekonomi, kebijakan ini juga menimbulkan tekanan pada harga bahan pangan. Menurut Direktur Kebijakan Pangan Kementerian Pertanian, kenaikan harga telur saat ini tidak hanya akibat MBG, tetapi juga disebabkan oleh faktor produksi seperti kenaikan biaya bahan baku dan permintaan di luar kebijakan tersebut.

Secara teknis, new policy ini memastikan distribusi telur ayam lebih merata, tetapi juga memaksa penjual untuk beradaptasi. Beberapa pedagang mulai mencari cara memperluas pasar, seperti menjual telur dalam bentuk yang lebih praktis atau memasukkan ke dalam paket komoditas. Di sisi lain, pemerintah menyatakan bahwa kebijakan ini akan terus dievaluasi, termasuk dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. “Kita harus memastikan new policy ini tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga tidak merugikan konsumen,” tutur Menteri Pertanian dalam pidatonya beberapa minggu lalu.

“Permintaan telur yang meningkat secara signifikan selama masa implementasi new policy membuktikan keberhasilan program ini dalam menjangkau kelompok yang sebelumnya kesulitan mendapatkan bahan makanan bergizi. Namun, dampaknya terhadap harga pasar harus dikelola dengan baik,” tambah ekonom dari Lembaga Pemantauan Ekonomi Nasional.

Sebagai respons, pihak terkait mulai mencari solusi untuk mengurangi tekanan harga. Beberapa produsen menawarkan diskon untuk pembelian dalam jumlah besar, sementara pemerintah berupaya menyesuaikan program distribusi agar tidak terlalu berat pada pasar. Dengan demikian, new policy MBG tetap menjadi fokus utama, tetapi dampaknya terhadap harga bahan pangan juga menjadi perhatian serius. Kenaikan harga telur hingga Rp27.000 per kg di Pasar Deprok adalah bukti nyata bagaimana kebijakan sosial bisa memengaruhi dinamika ekonomi pasar tradisional.

Leave a reply