El Nino dan Cuaca Ekstrem Diwaspadai Picu Kasus DBD pada 2027 – Kenaikan Suhu Jadi Penyebab
ningkat di Tahun 2027 El Nino dan Cuaca Ekstrem Diwaspadai - Peningkatan kekhawatiran akan dampak El Nino dan cuaca ekstrem terhadap kenaikan kasus demam
El Nino dan Cuaca Ekstrem Jadi Peringatan Kasus DBD Meningkat di Tahun 2027
El Nino dan Cuaca Ekstrem Diwaspadai – Peningkatan kekhawatiran akan dampak El Nino dan cuaca ekstrem terhadap kenaikan kasus demam berdarah (DBD) di tahun 2027 semakin mengemuka. Menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tren peningkatan jumlah pasien DBD mulai terlihat di akhir 2026, dengan potensi lonjakan signifikan di awal tahun 2027. Fenomena cuaca ekstrem, seperti kemarau dan hujan deras, dikaitkan sebagai penyebab utama penyebaran penyakit ini. Hal ini diungkapkan oleh Budi Setiawan, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dalam konferensi pers yang diadakan pada 19 Juni 2026.
El Nino dan Cuaca Ekstrem Memicu Kenaikan Kasus DBD
Budi Setiawan menjelaskan bahwa data selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan kenaikan signifikan dalam kasus DBD di Jakarta. Puncak kasus tercatat pada tahun 2024, kemudian menurun sedikit di 2025 dan 2026. Namun, ia memperkirakan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang dipengaruhi El Nino akan mengubah pola ini. “Fenomena seperti kemarau dan hujan intensif berdampak langsung pada siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa suhu udara yang meningkat akibat El Nino dan cuaca ekstrem menciptakan lingkungan yang ideal bagi nyamuk berkembang biak.
Kondisi ini mengakibatkan peningkatan jumlah genangan air, baik di area perkotaan maupun pedesaan, yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Budi memperkirakan bahwa angka pasien DBD akan kembali merangkak naik di 2027, terutama jika cuaca ekstrem terus berlangsung. “Kami mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, terutama di musim kemarau yang memungkinkan genangan air lebih lama, atau hujan deras yang menggenangi permukaan tanah,” lanjutnya.
Kenaikan Suhu Global Mempercepat Penyebaran DBD
Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menyoroti peran pemanasan global dalam mempercepat penyebaran DBD. Menurutnya, suhu udara yang meningkat berdampak pada metabolisme nyamuk Aedes aegypti, sehingga mereka dapat berkembang biak lebih cepat. “El Nino dan cuaca ekstrem memperkuat efek pemanasan global, yang membuat nyamuk lebih aktif dan meningkatkan risiko penularan DBD,” kata Hartono dalam wawancara. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjangkau wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga Amerika Latin.
“Dengan perubahan iklim, wilayah yang sebelumnya tidak memiliki kasus DBD kini mulai melaporkan keberadaannya, termasuk daerah dengan iklim kering atau lembap,” tambah Hartono. Ia menjelaskan bahwa nyamuk Aedes aegypti mampu bertahan dalam kondisi cuaca beragam, sehingga keberadaannya menjadi lebih luas.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines, menegaskan bahwa beban ekonomi akibat DBD mencapai Rp 9 triliun pada 2026 berdasarkan studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). “El Nino dan cuaca ekstrem memperparah permasalahan ini, karena nyamuk bisa berkembang biak di tempat yang lebih beragam,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya program pencegahan yang lebih masif, terutama di daerah rawan banjir atau genangan air statis.
Strategi Pencegahan untuk Membendung DBD di Tahun 2027
Para ahli menekankan bahwa pencegahan DBD harus dilakukan secara proaktif, terutama sebelum musim El Nino dan cuaca ekstrem memicu kenaikan kasus. Budi Setiawan menyarankan beberapa langkah, seperti membersihkan genangan air di sekitar rumah, menguras bak mandi dan waduk, serta memasang jaring anti nyamuk di rumah. “Kita perlu menggandakan upaya sosialisasi kepada masyarakat, karena kebanyakan kasus DBD terjadi karena kurangnya kesadaran warga akan bahaya nyamuk,” katanya.
Di sisi lain, Hartono Gunardi menambahkan bahwa pemerintah dan lembaga kesehatan perlu menyiapkan cadangan obat dan vaksin untuk menghadapi kemungkinan peningkatan DBD di 2027. “El Nino dan cuaca ekstrem mungkin mengubah pola musim, sehingga kami harus memprediksi kebutuhan kesehatan secara lebih cermat,” ujarnya. Takeda Innovative Medicines juga mengusulkan peningkatan kerja sama antarinstansi dalam program pengendalian nyamuk, terutama di area rawan penyakit.
Dengan memperhatikan dampak El Nino dan cuaca ekstrem, Indonesia perlu memperkuat sistem pemberantasan sarang nyamuk dan meningkatkan respons darurat jika terjadi lonjakan kasus DBD. Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah memulai beberapa program, seperti kampanye edukasi di sekolah dan pusat komunitas. Namun, keberhasilan pencegahan masih bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam mengantisipasi risiko penyakit ini.
