Key Strategy: Penjelasan Dibalik Terminal Manggarai yang Mati Suri Nyaris Satu Dekade
Terminal Manggarai yang Mati Suri Nyaris Satu Dekade Key Strategy memainkan peran penting dalam memahami mengapa Terminal Manggarai di Jakarta mengalami
Penjelasan Dibalik Terminal Manggarai yang Mati Suri Nyaris Satu Dekade
Key Strategy memainkan peran penting dalam memahami mengapa Terminal Manggarai di Jakarta mengalami stagnasi operasional selama hampir satu dekade. Dinas Perhubungan DKI Jakarta telah mengungkapkan penyebab utama dari situasi ini, yaitu kesulitan memanfaatkan ruang terminal yang sempit untuk armada bus besar. Dalam wawancara dengan Pikiran-Rakyat.com, Kamis, 25 Juni 2026, Kepala UPT Terminal Angkutan Jalan Dishub DKI Jakarta, Zulkifli, menjelaskan bahwa desain terminal yang tidak fleksibel menjadi hambatan utama.
Desain Terminal dan Keterbatasan Fisik
Terminal Manggarai dibangun dengan konsep tata ruang yang kaku, sehingga tidak mampu menampung armada bus besar tanpa menyebabkan kemacetan di area masuk dan keluar. “Keterbatasan ruang yang terencana sejak awal membuat Terminal Manggarai tidak bisa beroperasi secara optimal,” kata Zulkifli. Pada awalnya, terminal ini didesain untuk armada bus sedang, yang memiliki dimensi lebih kecil dan memungkinkan manuver yang lebih mudah di area parkir. Namun, kebutuhan penggunaan bus besar berubah seiring berkembangnya sistem transportasi di kota ini, memicu ketidakseimbangan antara kapasitas fisik dan kebutuhan operasional.
“Kita harus mengadaptasi strategi agar Terminal Manggarai bisa berfungsi sebagai pusat logistik yang lebih efektif,” tambah Zulkifli dalam wawancara tersebut.
Pengaruh Penghapusan Izin Operasional pada 2018
Sebelumnya, penghapusan izin operasional perusahaan bus Kopaja dan Metromini pada tahun 2018 berdampak signifikan terhadap peran Terminal Manggarai. Perubahan ini memaksa relokasi beberapa armada dan mengubah pola rute angkutan kota, sehingga terminal yang seharusnya menjadi simpul utama justru kesulitan menampung volume penumpang. Key Strategy dalam pengaturan rute juga diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan terminal dan mengurangi kepadatan di sekitarnya.
Di samping itu, ketidaksempurnaan infrastruktur jalan di sekitar Terminal Manggarai membuatnya sulit untuk beroperasi secara maksimal. Zulkifli menekankan bahwa Key Strategy dalam perencanaan lalu lintas kota harus memprioritaskan aksesibilitas terminal agar bisa menjadi poros transportasi yang efisien.
Rencana Perbaikan dan Harapan Masa Depan
Terminal Manggarai kini menjadi bagian dari Key Strategy dalam program pemeliharaan dan pengembangan transportasi DKI Jakarta. Dalam rencana tahun 2026, Dishub DKI Jakarta berharap mampu meningkatkan kapasitas terminal agar bisa menampung Transjakarta, layanan bus kota yang menjadi tulang punggung angkutan umum. Upaya ini melibatkan rekayasa lalu lintas dan peningkatan tata ruang untuk menghindari gangguan terhadap arus lalu lintas di sekitar terminal.
Kebutuhan untuk memperbaiki Terminal Manggarai tidak hanya berkaitan dengan kapasitas fisik, tetapi juga dengan kebijakan transportasi yang lebih inklusif. Key Strategy dalam mengintegrasikan sistem angkutan kota dan jalan raya menjadi faktor kunci dalam memulihkan fungsi terminal sebagai pusat mobilitas utama Jakarta. Tantangan terbesar terletak pada keterbatasan lahan dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan revitalisasi infrastruktur yang memakan waktu cukup lama.
Dengan Key Strategy yang lebih terarah, Dishub DKI Jakarta berharap bisa mengubah wajah Terminal Manggarai menjadi lebih modern dan efektif. Peningkatan kualitas layanan serta pengoptimalan tata ruang akan menjadi langkah penting dalam menarik kembali pengguna dan menjadikan terminal sebagai solusi transportasi yang lebih terpadu. Strategi ini juga bertujuan meningkatkan kenyamanan pengguna, baik untuk bus sedang maupun besar, dalam mengakses berbagai destinasi di Jakarta.
