New Policy: Terminal Manggarai Tak Beroperasi Optimal Usai Kopaja-Metromini Dihapus, Warga Menyayangkan
New Policy Hampir Menghiasi Terminal Manggarai, Warga Kecewa New Policy yang diterapkan pemerintah telah memengaruhi operasional Terminal Manggarai di Jakarta
New Policy Hampir Menghiasi Terminal Manggarai, Warga Kecewa
New Policy yang diterapkan pemerintah telah memengaruhi operasional Terminal Manggarai di Jakarta Selatan. Sejak tahun 2018, izin operasional bus Kopaja dan angkutan kota (angkot) Metromini dihapus, mengakibatkan penurunan signifikan dalam aktivitas terminal tersebut. Perubahan ini menuai kritik dari warga sekitar yang menganggap kebijakan baru tersebut tidak memperhatikan kebutuhan transportasi umum. Kini, delapan tahun setelah kebijakan tersebut diimplementasikan, Terminal Manggarai terlihat lebih sepi, dengan penumpang yang semakin terbatas dan layanan yang kurang optimal.
Dampak New Policy pada Terminal Manggarai
Kebijakan penghapusan izin operasional Kopaja dan Metromini dianggap sebagai pemicu utama penurunan jumlah kendaraan yang beroperasi di Terminal Manggarai. Sebagai pengelola terminal, Sertinsi, Kepala UPT Pengelola Terminal Manggarai, menjelaskan bahwa keputusan ini berdampak langsung pada jumlah armada yang tersedia, sehingga menyebabkan peningkatan waktu tunggu bagi penumpang. Menurut Sertinsi, pengurangan armada ini juga memengaruhi pendapatan terminal, yang sebelumnya bergantung pada pengoperasian bus dan angkot tersebut.
Berikutnya, kita perlu melihat bagaimana New Policy mengubah dinamika transportasi di wilayah tersebut. Tahun 2018 menjadi titik balik seiring pergeseran kebijakan yang lebih mengarah ke sistem angkutan modern, seperti bus kota dan layanan daring. Namun, penurunan jumlah armada tradisional mengakibatkan ketidaknyamanan bagi masyarakat yang masih bergantung pada bus dan angkot untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya itu, sejumlah warga juga menyoroti ketidakefisienan penerapan kebijakan ini, terutama dalam mengatasi masalah kemacetan di sekitar terminal.
Kritik Warga atas New Policy
Warga sekitar Terminal Manggarai menyampaikan kekecewaan mereka terhadap New Policy yang dianggap mengganggu aksesibilitas ke berbagai destinasi. Banyak penumpang yang kesulitan mencari kendaraan karena armada Kopaja dan Metromini yang sebelumnya cukup banyak kini berkurang drastis. “Kebijakan ini membuat kita harus mengubah cara berangkat, dan kadang kala harus menunggu lebih lama,” ujar salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya. Beberapa pengguna jasa transportasi juga mengeluhkan kenaikan biaya yang diikuti oleh perubahan model operasional, meskipun belum ada data resmi tentang angka tersebut.
Sebagai respons terhadap kritik, pihak pengelola terminal menyatakan bahwa New Policy bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi. Mereka menjelaskan bahwa armada baru yang diperkenalkan lebih modern dan efisien, sehingga diharapkan dapat mengurangi kepadatan di jalan. Namun, keberhasilan ini tergantung pada ketersediaan armada yang cukup dan koordinasi yang baik antara pihak pengelola dengan operator angkutan lain. Di sisi lain, ada juga warga yang menilai bahwa penghapusan armada lama tidak dilakukan secara bertahap, sehingga menyebabkan gangguan yang lebih besar.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa New Policy memperkenalkan pendekatan berbasis perizinan yang lebih ketat, dengan pengelola terminal dan operator menjadi pihak yang lebih terlibat langsung dalam pengawasan. Meski tujuannya untuk menjamin keandalan dan kejelasan operasional, kebijakan ini juga mengakibatkan ketidakstabilan jadwal. Warga menyayangkan bahwa tidak ada kompensasi yang diberikan kepada operator yang telah lama beroperasi, termasuk Kopaja dan Metromini. Mereka berharap kebijakan ini dapat diadaptasi agar tetap memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, New Policy tetap menjadi topik kontroversi. Meski ada keuntungan dari sistem yang lebih terstruktur, penurunan kinerja Terminal Manggarai mengisyaratkan bahwa kebijakan ini perlu evaluasi lebih lanjut. Pemerintah diharapkan dapat menyeimbangkan antara inovasi transportasi dan kebutuhan masyarakat yang sehari-hari memanfaatkan layanan tradisional. Penyempurnaan kebijakan, seperti pengembangan angkutan alternatif atau peningkatan jumlah armada, dinilai penting untuk menjaga kinerja terminal dan kepuasan pengguna jasa.
