Kemarau Picu Selokan Kering – Warga Keluhkan Bau dan Banyak Nyamuk hingga Gatal-Gatal
elokan Kering, Warga Keluhkan Bau dan Nyamuk Kemarau Picu Selokan Kering - Kemarau yang terjadi di Kota Tasikmalaya, khususnya di Kecamatan Cihideung, telah
Kemarau Picu Selokan Kering, Warga Keluhkan Bau dan Nyamuk
Kemarau Picu Selokan Kering – Kemarau yang terjadi di Kota Tasikmalaya, khususnya di Kecamatan Cihideung, telah memicu berbagai keluhan dari warga setempat. Selokan di sejumlah wilayah mulai kering, mengakibatkan bau tidak sedap dan peningkatan populasi nyamuk. Masalah ini mengganggu kehidupan sehari-hari warga, terutama di Kampung Cieunteung Babakan, di mana lingkungan mulai terasa tidak nyaman karena kondisi kekeringan yang berkepanjangan.
Kondisi Selokan Kering dan Dampak pada Lingkungan
Menurut informasi terkini, selokan yang sebelumnya menjadi saluran air untuk mengalirkan air hujan dan mengurangi genangan di permukiman kini mulai mengering. Faktor utama penyebabnya adalah rendahnya curah hujan selama beberapa bulan terakhir. Situasi ini menyebabkan kumpulan sampah dan endapan lumpur terperangkap di dasar selokan, menghasilkan bau yang menyengat dan mengganggu.
Kekeringan juga mengurangi habitat nyamuk, yang sebelumnya mengandalkan genangan air untuk berkembang biak. Akibatnya, populasi serangga pengganggu ini meningkat secara signifikan, memicu kekhawatiran warga akan penyebaran penyakit seperti demam berdarah atau penyakit kulit. Selokan kering membuat ruas jalan menjadi lebih berdebu, sementara air sumur bor yang sebelumnya memadai kini terlihat berkurang.
Keluhan Warga dan Upaya Mengatasi Masalah
“Sudah dua minggu kondisi selokan disini kering, dan bau serta nyamuk terus mengganggu,” keluh Murjito, warga Kampung Cieunteung Babakan. Ia menyebutkan bahwa aliran air yang sempit memicu akumulasi sampah dan pengerasan endapan lumpur, yang membuat bau terus mengendap di sekitar rumah.
Beberapa warga mengaku mengalami gatal-gatal akibat gigitan nyamuk yang tak kunjung berkurang. Meski pemerintah daerah telah memberikan peringatan awal, sejumlah masyarakat mengeluhkan bahwa upaya penanganan masih kurang memadai. Mereka meminta penambahan pengaturan saluran air serta pembersihan rutin untuk mencegah masalah yang lebih parah.
Selain mengeluhkan bau dan nyamuk, warga juga mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih. Sumur bor yang menjadi sumber utama air minum terlihat sedikit berkurang, memaksa sebagian orang untuk mencari sumber air alternatif. Hal ini memperparah beban kebutuhan sehari-hari, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil atau lansia.
Kondisi kemarau yang memicu selokan kering juga berdampak pada kegiatan pertanian sekitar. Petani di daerah tersebut mengeluhkan bahwa tanah yang lebih kering menyebabkan penurunan hasil panen, sementara aliran air kecil membuat kelembapan tanah tidak terjaga. Selain itu, peningkatan suhu udara juga memperburuk keadaan, dengan kondisi panas yang tak kunjung reda.
Untuk mengatasi masalah ini, warga mulai mengambil tindakan sendiri. Beberapa mengumpulkan sampah di sekitar rumah, sementara yang lain menggunakan pengasapan untuk mengurangi jumlah nyamuk. Meski begitu, mereka tetap mengharapkan bantuan dari pihak berwenang untuk menangani kekeringan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
