Skip to content
Royal desk
Agustus 3, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Topics Covered: Soal Usulan AI Gantikan Dokter, Menkes: Bisa Membantu, Tapi Bukan Pengganti

Richard Anderson - aruskabar.com 3 mins read

Topics Covered: AI Gantikan Dokter? Menkes: Bukan Pengganti, Tapi Alat Bantu Usulan Pemanfaatan AI dalam Pelayanan Kesehatan Topics Covered - Usulan

Topics Covered: Soal Usulan AI Gantikan Dokter, Menkes: Bisa Membantu, Tapi Bukan Pengganti

Topics Covered: AI Gantikan Dokter? Menkes: Bukan Pengganti, Tapi Alat Bantu

Usulan Pemanfaatan AI dalam Pelayanan Kesehatan

Topics Covered – Usulan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam layanan kesehatan tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dan sejumlah kalangan profesional. Poin utama usulan tersebut dibahas dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI dengan Kementerian Kesehatan, yang berlangsung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Kamis, 25 Juni 2026. Rapat ini mengeksplorasi kemungkinan penggunaan teknologi canggih untuk mengatasi kesenjangan akses layanan medis, khususnya di daerah yang masih kurang dilayani tenaga kesehatan.

Rapat kerja ini dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi IX, Nihayatul Wafiroh, yang mengajukan saran untuk mendorong pemanfaatan AI sebagai solusi jangka pendek. Ia menyoroti pentingnya teknologi sebagai sarana pendukung dalam mempercepat diagnosa dan pengambilan keputusan medis, terutama di tempat-tempat dengan sumber daya kesehatan terbatas. Namun, Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan peran manusia dalam proses pelayanan kesehatan.

Peran Teknologi dalam Memperkuat Sistem Kesehatan

Menurut Budi, AI dan teknologi kesehatan lainnya dapat menjadi penambah efektif, asalkan tetap ditempatkan dalam konteks peningkatan jumlah dokter di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kecepatan analisis data atau gejala melalui perangkat digital, tetapi juga pada interaksi langsung antara tenaga medis dan pasien. “AI adalah alat yang bisa membantu, tapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa tenaga kesehatan manusia tetap menjadi tulang punggung sistem ini,” jelasnya.

Topics Covered – Kementerian Kesehatan menyoroti peran AI dalam memperluas jangkauan layanan medis, terutama di daerah terpencil yang masih kesulitan mengakses fasilitas kesehatan. Teknologi ini, kata Menkes, bisa mempercepat proses identifikasi penyakit atau memberikan rekomendasi awal untuk pasien yang membutuhkan bantuan segera. Contohnya, AI dapat digunakan untuk menganalisis gambar medis atau memantau kondisi pasien secara real-time melalui ponsel.

Di sisi lain, Budi juga menyoroti tantangan yang mungkin muncul jika teknologi diandalkan secara berlebihan. “Meski AI bisa membantu, kita harus waspada terhadap risiko kehilangan kualitas pelayanan jika hanya bergantung pada alat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran teknologi seperti telemedicine atau AI harus diiringi dengan upaya memperbanyak jumlah tenaga medis, sehingga tidak terjadi keberimbangan antara manfaat teknologi dan kebutuhan manusia.

Kebutuhan Peningkatan Sumber Daya Kesehatan

Topics Covered – Dalam diskusi, Budi mengungkapkan bahwa jumlah dokter di Indonesia masih tidak merata. Menurut data terbaru, daerah-daerah terpencil memiliki kurang dari 10% dari total tenaga medis yang diperlukan. “Kita harus fokus pada peningkatan ketersediaan dokter, tidak hanya menerapkan teknologi,” tambahnya. Hal ini mendapat dukungan dari anggota Komisi IX lainnya yang menilai keberhasilan teknologi harus diukur dari kemampuannya meningkatkan akses, bukan menggantikan manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah berupaya memperluas penggunaan teknologi kesehatan, termasuk telemedicine dan AI. Menurut Budi, teknologi ini bisa memberikan solusi sementara untuk daerah yang sulit mendapatkan layanan medis. Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan penyelesaian akhir, tetapi bagian dari strategi untuk mendorong kualitas layanan kesehatan secara keseluruhan. “Kita harus seimbangkan antara inovasi teknologi dan pengembangan manusia,” pungkasnya.

Usulan pemanfaatan AI sebagai alat bantu juga didukung oleh sejumlah ahli teknologi kesehatan yang menilai bahwa perangkat canggih ini bisa meningkatkan efisiensi di berbagai unit layanan. Misalnya, AI bisa digunakan untuk mengurangi beban dokter dalam pemeriksaan awal atau menyelesaikan tugas-tugas administratif. Namun, para ahli sepakat bahwa teknologi tidak bisa menggantikan keterampilan klinis dan pengalaman manusia. “AI bisa menjadi pendamping, tapi kita tidak boleh melupakan manfaat langsung yang diberikan oleh tenaga kesehatan manusia,” kata salah satu expert yang hadir.

Leave a reply