Facing Challenges: Curhat Driver Ojol, Pendapatan Harian Tergerus Bensin dan Makan
dapi Tantangan Pendapatan Harian Tergerus Bensin dan Makan Facing Challenges - Dalam dunia ojek online (ojol), banyak driver yang menghadapi tantangan
Driver Ojol Hadapi Tantangan Pendapatan Harian Tergerus Bensin dan Makan
Facing Challenges – Dalam dunia ojek online (ojol), banyak driver yang menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga pendapatan harian mereka. Bahan bakar dan makanan, dua pengeluaran utama, terus menggerus penghasilan yang seharusnya cukup stabil. Hal ini diungkapkan oleh Heru (43) dan Aris (31), dua pengemudi sepeda motor di Jakarta yang bekerja penuh waktu. Kedua mereka menghabiskan minimal 8 jam sehari untuk menjalankan aktivitas, tetapi justru mengalami ketidakpastian finansial akibat biaya-biaya tak terduga yang terus meningkat.
Kondisi Ekonomi dan Biaya Operasional yang Menekan
Dalam wawancara, Heru mengungkapkan bahwa pendapatan harian menjadi sulit diprediksi. Saat sedang sepi, pendapatan terendah hanya mencapai Rp80.000 bersih. “Itu kalau sudah mentok,” kata Heru sambil berada di lokasi mangkal di Cipayung, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Meski pendapatan maksimal pernah mencapai Rp160.000 per hari melalui aplikasi Grab, ia menyebutkan bahwa setelah dikurangi biaya bensin dan makan, pendapatan bersih yang diterima hanya sekitar Rp120.000.
“Hariannya tidak pasti. Saat sepi, pendapatan terendah hanya Rp80.000 bersih,” ujar Heru, yang menggambarkan tantangan sehari-harinya.
Situasi serupa juga dirasakan oleh Aris, seorang pengemudi Gojek yang fokus pada layanan pengiriman barang. Ia menjelaskan bahwa pendapatan kotor bisa mencapai Rp200.000 per hari, tetapi setelah dikurangi biaya operasional seperti bensin, makan, dan rokok, pendapatan bersih yang ia bawa pulang hanya berkisar Rp150.000. “Pendapatan bersih yang diterima ke rumah sekitar Rp150.000. Angka itu setelah dikurangi biaya bensin sebesar Rp35.000, makan di warteg Rp15.000, serta rokok,” tambah Aris.
Kesulitan Membagi Pendapatan untuk Kebutuhan Harian
“Makan pagi sengaja di rumah buat menghemat,” ujar Aris, yang kini fokus pada layanan logistik GoSend.
Aris, yang berasal dari Madiun, menyebutkan bahwa pendapatan tersebut harus dibagi untuk membayar kontrakan di Bekasi dan tetap menyisihkan uang untuk kebutuhan istrinya yang tinggal di Jawa Timur. Kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dan kebutuhan pokok menjadi prioritas utama, tetapi tingkat penghasilan yang tidak pasti membuatnya kesulitan merencanakan keuangan. Di sisi lain, Heru mengatakan bahwa ia terpaksa menunda rencana membeli rumah atau menyisihkan dana untuk tabungan. “Pendapatan yang tidak menjamin membuat semua keputusan finansial harus dilakukan secara berhati-hati,” imbuhnya.
Berbagai upaya penghematan pun dilakukan untuk mengatasi krisis pendapatan. Driver ojol sering kali membatasi pengeluaran, seperti memilih makanan murah atau menggunakan transportasi umum untuk menekan biaya bahan bakar. Namun, tantangan ini tidak hanya bersifat individual. Di tengah persaingan ketat di sektor ojol, banyak pengemudi mengeluhkan kurangnya penghasilan yang memadai. “Layanan ojol berubah menjadi pekerjaan sampingan, karena pendapatan utama justru tergerus oleh biaya-biaya ini,” tambah Heru.
Selain bensin dan makan, biaya perawatan kendaraan seperti oli, ban, dan service juga menjadi beban tambahan. Dengan harga bahan bakar yang terus naik, driver ojol mengalami tekanan ekstra dalam menjaga keuntungan. Menurut para pengemudi, pendapatan harian yang sebelumnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari kini sering kali hanya cukup untuk kebutuhan dasar. “Harapan untuk pendapatan lebih baik terus ada, tapi selama ini masih sulit mencapai titik tersebut,” kata Aris.
Kondisi ini menggarisbawahi bahwa driver ojol tidak hanya menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam mempertahankan kesejahteraan keluarga. Mereka terus berusaha memaksimalkan waktu kerja, memanfaatkan berbagai jenis layanan aplikasi, dan meningkatkan kemampuan memanage pengeluaran. Meski demikian, tuntutan hidup yang semakin mahal membuat pekerjaan ojol harus ditemani oleh usaha tambahan atau kerja lembur. “Di samping mengendarai ojol, saya juga menerima pesan pemesanan makanan melalui aplikasi lain agar pendapatan lebih menjamin,” kata Heru.
Dengan banyaknya driver ojol yang menghadapi situasi serupa, tantangan ini tidak hanya menjadi isu pribadi, tetapi juga menggambarkan perubahan ekonomi yang terjadi di sektor transportasi. Bensin dan makan, dua biaya utama, terus menjadi penggerus pendapatan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Sebagai akibatnya, driver ojol harus beradaptasi dengan berbagai strategi untuk tetap bertahan, meski usaha mereka masih terus menghadapi kekhawatiran
