Dulu Jadi Simpul Transportasi – Terminal Manggarai Kini Mati Suri Nyaris Satu Dekade
Suri Selama 10 Tahun Dulu Jadi Simpul Transportasi - Terminal Manggarai, yang dahulu menjadi sentra pergerakan transportasi di Jakarta Selatan, kini berubah
Terminal Manggarai: Dulu Simpul Transportasi, Kini Mati Suri Selama 10 Tahun
Dulu Jadi Simpul Transportasi – Terminal Manggarai, yang dahulu menjadi sentra pergerakan transportasi di Jakarta Selatan, kini berubah menjadi tempat yang hampir tak beraktivitas. Lokasi yang berada di Jalan Sultan Agung ini dikenal sebagai pilihan utama bagi masyarakat untuk memudahkan akses ke berbagai destinasi di kota metropolitan. Namun, sejak delapan tahun lalu, situasi berubah drastis, mengakibatkan terminal tersebut terlihat lengang dan sepi. Penumpang yang dahulu memadati area ini kini hanya sesekali terlihat, mencerminkan penyusutan fungsi terminal sebagai pusat mobilitas.
Persaingan dan Perubahan Pola Penggunaan
Dulu Jadi Simpul Transportasi, Terminal Manggarai menjadi titik penting untuk menghubungkan berbagai moda transportasi seperti bus, angkutan kota, dan kereta api. Area yang terdiri dari empat lantai dan tiga jalur pengoperasian menjadi saksi bisu dari dinamika perjalanan masyarakat. Namun, dengan munculnya terminal-terminal baru di lokasi strategis, seperti Terminal Lebak Bulus dan Terminal Kampung Rawa, perhatian penumpang mulai beralih. Selain itu, proyek pembangunan LRT Jakarta yang mengubah jalur transjakarta menjadi halte sementara juga memengaruhi aktivitas di Terminal Manggarai.
Penggunaan Terminal Manggarai mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan beroperasinya stasiun KA Bandara di dekatnya, sebagian besar penumpang memilih untuk menggunakan transportasi kereta api. Di sisi lain, angkutan umum seperti Transjakarta dan bus umum juga beralih ke jalur lain karena perubahan rute dan perluasan infrastruktur. Akibatnya, Terminal Manggarai yang sebelumnya padat dengan aktivitas perjalanan kini justru sepi, meski masih tetap menjadi sarana kecil bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kondisi Fisik dan Infrastruktur yang Terabaikan
Kondisi fisik Terminal Manggarai yang memudar juga mencerminkan penyusutan fungsi sebagai simpul transportasi. Struktur bangunan yang awalnya megah dan terawat kini mulai berdebu, dengan eskalator dan lift di setiap lantai tidak beroperasi. Area parkir yang sebelumnya penuh dengan kendaraan bermotor kini hanya dihiasi oleh mobil-mobil yang sesekali datang, seringkali dengan tujuan kecil. Debu dan keheningan mengisi ruang yang sebelumnya penuh dengan kehidupan transportasi.
Berdasarkan laporan terbaru, kondisi Terminal Manggarai menjadi semakin memprihatinkan. Warna putih bangunan yang dulu cerah kini memudar karena kurangnya perawatan, sementara jalur bus Kopaja, Metromini, dan angkutan kota yang dahulu ramai kini hampir tak ada penggunaannya.
Pengembangan Proyek dan Pengaruhnya
Proyek pembangunan LRT Jakarta menjadi salah satu faktor utama yang mengubah dinamika di Terminal Manggarai. Proyek ini memaksa pergeseran jalur angkutan umum, sehingga keberadaan terminal tersebut mulai ditinggalkan. Meski beberapa halte sementara untuk Transjakarta masih beroperasi, aktivitas utama sekarang berpusat di stasiun KA Bandara. Terminal Manggarai yang sebelumnya menjadi titik pertemuan berbagai transportasi kini terlihat sepi, mencerminkan pergeseran fungsi dan peran baru infrastruktur transportasi di kawasan tersebut.
Perubahan ini juga memengaruhi ekonomi sekitar. Toko-toko dan warung di sekitar terminal mengalami penurunan pengunjung, mengakibatkan penurunan omset bisnis. Selain itu, pengemudi angkutan umum yang sebelumnya mengandalkan terminal ini kini harus beradaptasi dengan rute baru, mengakibatkan pengurangan jumlah kendaraan yang berhenti di lokasi tersebut. Jumlah penumpang yang sesekali lewat dari stasiun menunjukkan bahwa Terminal Manggarai tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi jauh dari kondisi sebelumnya.
Komunitas dan Aspirasi Masyarakat
Banyak warga sekitar yang merasa kecewa dengan kondisi Terminal Manggarai. Seorang warga, Suryadi, mengatakan, “Saya pernah sering menggunakan terminal ini untuk bepergian ke Jakarta Barat, tetapi kini saya lebih sering menggunakan angkutan umum yang beroperasi di dekat stasiun. Terminal Manggarai terlihat sepi, jadi saya jadi ragu untuk menggunakannya lagi.” Aspirasi masyarakat ini mencerminkan bahwa perubahan pola penggunaan transportasi memengaruhi daya tarik dan fungsi terminal tersebut.
Beberapa warga juga mengharapkan pemerintah memberikan perhatian khusus untuk menyelamatkan terminal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan memperbaiki infrastruktur dan menyesuaikan rute angkutan, Terminal Manggarai bisa kembali menjadi simpul transportasi yang vital. Namun, hingga saat ini, upaya revitalisasi belum terlihat nyata, sehingga kondisi sepi tetap berlangsung.
Terminal Manggarai, yang dulu menjadi simbol kemacetan dan kegiatan transportasi yang padat, kini terlihat sebagai bukti pergeseran prioritas infrastruktur. Dengan beroperasinya proyek LRT dan pembangunan terminal baru, Terminal Manggarai terpaksa mengalami perubahan fungsi. Namun, meski tak lagi menjadi pusat utama, terminal ini tetap bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan strategi pemasaran dan perbaikan layanan, Terminal Manggarai bisa bangkit kembali sebagai bagian dari sistem transportasi Jakarta yang terus berkembang.
