100 Lebih Pelajar dan Santri di Garut Diduga Keracunan Makanan MBG, Alami Mual hingga Diare
Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan publik setelah 100 Lebih Pelajar dan Santri dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan makanan
100 Lebih Pelajar dan Santri Garut Keracunan Makanan MBG
Aruskabar.com – Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan publik setelah 100 Lebih Pelajar dan Santri dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan makanan. Kasus ini terjadi setelah para siswa dan santri mengonsumsi menu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan secara serentak di berbagai wilayah. Berdasarkan konfirmasi resmi dari Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, jumlah korban kini telah melampaui angka seratus orang. Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan singkat pada Kamis, 23 Juli 2026, yang mengonfirmasi bahwa proses penanganan medis masih terus berlangsung.
Timeline Kejadian dan Korban Awal
Kasus keracunan ini pertama kali terdeteksi pada Rabu dini hari, 22 Juli 2026. Saat itu, sejumlah santri Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah yang berlokasi di Kampung Cigaluh, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu, mulai merasakan gejala tidak enak badan. Mereka kemudian datang ke Puskesmas Cibatu dengan keluhan yang hampir serupa. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menjelaskan bahwa korban awal tercatat sebanyak 31 orang yang langsung mendapatkan pertolongan medis di lokasi.
Pertama sekitar pukul 01.00 WIB ada beberapa orang yang datang, kemudian terus bertambah hingga 27 orang. Selanjutnya ada laporan tambahan empat orang lagi, sehingga jumlah korban dari pondok pesantren menjadi 31 orang. Semuanya telah ditangani dengan baik oleh tim kesehatan di Puskesmas Cibatu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah korban terus bertambah seiring dengan laporan dari berbagai pihak. 100 Lebih Pelajar dan Santri kini menjadi total korban yang terkonfirmasi mengalami gejala keracunan makanan. Para korban berasal dari berbagai pondok pesantren dan sekolah di wilayah Garut yang menerima distribusi makanan MBG pada hari sebelumnya, yaitu Selasa, 21 Juli 2026.
Gejala yang muncul pada para korban cukup bervariasi, namun umumnya meliputi mual, muntah, hingga diare. Beberapa korban bahkan dilaporkan harus mendapatkan perawatan lebih intensif di rumah sakit terdekat. Pemerintah daerah memastikan bahwa sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. Tim kesehatan juga telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan tidak ada korban tambahan yang terlewatkan.
Nurdin Yana juga mengimbau masyarakat agar segera membawa orang yang masih mengalami gejala serupa ke fasilitas kesehatan terdekat. Ia berharap para korban dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Pemerintah daerah telah mengerahkan tenaga medis tambahan untuk menangani lonjakan pasien yang datang ke berbagai puskesmas dan rumah sakit di wilayah Garut.
Kita berharap para korban segera pulih dan dapat kembali beraktivitas. Jika masih ada korban tambahan, silakan segera datang ke Puskesmas agar bisa langsung mendapatkan penanganan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Namun, kejadian ini menjadi catatan penting bagi pihak terkait untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang didistribusikan. 100 Lebih Pelajar dan Santri yang menjadi korban kini dalam masa pemulihan dan diharapkan dapat kembali ke kegiatan belajar mengajar dalam waktu dekat.
