Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

JPO Tendean Roboh – Pramono: Anggaran APBD Tidak Tersedia, Akan Cari CSR

Michael Hernandez - aruskabar.com 3 mins read

JPO Tendean Roboh, Pramono: Anggaran APBD Tidak Tersedia, Akan Cari CSR JPO Tendean Roboh - Sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terletak di Jalan

JPO Tendean Roboh – Pramono: Anggaran APBD Tidak Tersedia, Akan Cari CSR

JPO Tendean Roboh, Pramono: Anggaran APBD Tidak Tersedia, Akan Cari CSR

JPO Tendean Roboh – Sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terletak di Jalan Tendean, Jakarta Selatan, mengalami kerusakan serius setelah ditabrak truk pengangkut alat berat pada Selasa (14/7/2026). Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran karena JPO Tendean menjadi salah satu infrastruktur vital yang sering digunakan masyarakat untuk menghindari kemacetan di area tersebut. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, langsung memberikan respons terhadap insiden tersebut, menyatakan bahwa pembangunan kembali JPO akan segera dimulai, meski anggaran APBD masih belum tersedia.

Kerusakan JPO Tendean dan Tanggung Jawab Pemeliharaan

Kerusakan JPO Tendean tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga mengganggu mobilitas warga sekitar. Truk yang melintas pada jam sibuk menabrak struktur JPO, menyebabkan bagian atas jembatan roboh dan mengancam keselamatan pengguna jalan. Pihak Pemprov DKI mengungkapkan bahwa insiden tersebut terjadi karena kesalahan pihak yang bertanggung jawab atas perawatan infrastruktur. Meski demikian, Gubernur Pramono Anung menggarisbawahi bahwa kejadian ini menjadi momentum untuk mengevaluasi keandalan sistem pendanaan proyek publik.

Dalam upaya mempercepat pemulihan, Pramono mengatakan akan mengupayakan alternatif pendanaan, termasuk dari sumber-sumber seperti APBD Perubahan dan Corporate Social Responsibility (CSR). Ia menekankan pentingnya eksploitasi dana CSR sebagai kompensasi untuk kerusakan yang terjadi, mengingat CSR sering digunakan oleh perusahaan untuk mendukung proyek sosial dan infrastruktur. Gubernur juga membuka kemungkinan penggunaan KLB (Koefisien Lantai Bangunan) sebagai tambahan dana untuk menutupi kebutuhan biaya.

“Jika Bina Marga menyatakan bahwa pembangunan JPO Tendean belum bisa dilakukan karena anggaran masih belum tersedia, maka saya akan menemukan solusi, baik melalui APBD Perubahan, dana CSR, atau KLB (Koefisien Lantai Bangunan),” ujarnya di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/July/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen Pramono untuk tidak membiarkan insiden ini menghambat upaya pengembangan infrastruktur kota. Ia juga meminta perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di DKI Jakarta untuk lebih aktif dalam kontribusi CSR, terutama dalam proyek yang memerlukan penyelesaian darurat.

Respons dari Pihak Terkait dan Upaya Mempercepat Pemulihan

Pihak Bina Marga, sebagai badan teknis yang mengelola infrastruktur jalan dan jembatan, telah melakukan inspeksi lapangan untuk menilai tingkat kerusakan JPO Tendean. Hasilnya menunjukkan bahwa reparasi memerlukan waktu dan dana yang cukup signifikan. Dalam konteks ini, Pramono menegaskan bahwa anggaran APBD tahun 2026 belum dialokasikan untuk proyek tersebut, sehingga perlu mencari sumber pendanaan lain. Ia mengatakan akan mengusulkan kebijakan pencairan dana CSR lebih cepat, dengan memastikan prioritas diberikan kepada proyek yang memiliki dampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Sebagai bagian dari langkah pencairan dana, Pramono menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholder, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mendapatkan bantuan teknis. Pemulihan JPO Tendean juga akan melibatkan mitra swasta dan organisasi nirlaba, sebagai upaya menciptakan kemitraan dalam pemberdayaan lingkungan. Selain itu, ia mengusulkan bahwa evaluasi terhadap kinerja perusahaan yang berkontribusi CSR harus lebih transparan dan akuntabel, agar bisa menjadi sumber pendanaan yang andal.

Peristiwa JPO Tendean Roboh ini telah memicu perdebatan mengenai peran CSR dalam mendukung kebutuhan infrastruktur kota. Banyak pihak menilai bahwa CSR seharusnya tidak hanya menjadi alat promosi perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial yang lebih aktif. Pramono berharap dengan adanya kerusakan ini, perusahaan-perusahaan besar akan lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat dan ikut berpartisipasi dalam memperbaiki fasilitas umum yang vital.

Leave a reply