Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Key Strategy: Budaya di Situ Ciburuy Disebut ‘Mati Suri’, Balai Pinton Belum Juga Dibangun

Mary Thomas - aruskabar.com 3 mins read

Key Strategy: Budaya Situ Ciburuy Mati Suri, Balai Pinton Belum Dibangun Key Strategy - Strategi utama pengembangan kawasan Situ Ciburuy di Desa Ciburuy

Key Strategy: Budaya di Situ Ciburuy Disebut ‘Mati Suri’, Balai Pinton Belum Juga Dibangun

Key Strategy: Budaya Situ Ciburuy Mati Suri, Balai Pinton Belum Dibangun

Key Strategy – Strategi utama pengembangan kawasan Situ Ciburuy di Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, dianggap telah mengalami perubahan mendalam. Meski proyek penataan kawasan ini dirancang untuk meningkatkan infrastruktur dan daya tarik wisata, sejumlah pelaku seni dan budaya mengkritik bahwa strategi ini justru mengakibatkan stagnasi dalam pengembangan budaya setempat. Balai Pinton, pusat kegiatan seni yang sebelumnya menjadi simbol kehidupan budaya masyarakat, terus dalam proses pembangunan kembali hingga 2027, meski dinamika kreatif di wilayah ini mulai terasa terhambat.

Strategi Penataan dan Dampak pada Budaya Lokal

Pengembangan kawasan Situ Ciburuy, yang terus digalakkan sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan wisata, telah menyebabkan perubahan besar dalam pola aktivitas budaya. Balai Pinton, bangunan yang telah berdiri selama bertahun-tahun, menjadi sasaran utama penataan fisik. Sejak dibongkar pada 2021 hingga 2023, ruang ekspresi para pelaku seni dan budaya mengalami kesulitan. Mereka mengeluhkan bahwa keterlambatan pembangunan memicu kehilangan momentum dalam menjaga kearifan lokal.

“Kehilangan Balai Pinton membuat kehidupan budaya di Ciburuy terasa seperti mati suri. Seniman dan budayawan tidak memiliki tempat yang stabil untuk berkarya, padahal strategi penataan seharusnya mendorong integrasi antara wisata dan seni,” kata Yadi Hendardi, Sekretaris Desa Ciburuy.

Balai Pinton, yang sebelumnya menjadi tempat pertunjukan seni tradisional dan pertemuan budayawan, kini bergantung pada tempat sementara seperti Balai Jongko atau Lapang Tumaritis. Hal ini menunjukkan bahwa strategi penataan yang dijalankan belum sepenuhnya merealisasikan tujuan utamanya, yaitu memperkuat identitas budaya sekaligus mengembangkan kawasan wisata.

Pembangunan Balai Pinton dan Tantangan Strategis

Dalam upaya mempercepat penyelesaian proyek, pemerintah Desa Ciburuy menyatakan bahwa dokumen perencanaan Balai Pinton telah selesai dan kontraktor ditargetkan untuk memulai pekerjaan pada 2027. Meski strategi ini disusun dengan hati-hati, para pelaku seni mengeluhkan bahwa keterlambatan yang terjadi telah mengganggu keberlanjutan aktivitas budaya mereka.

Pertunjukan seni tradisional, seperti tarian khas Ciburuy atau musik daerah, harus dipindahkan ke tempat yang tidak dirancang. Ini berdampak pada pengalaman pengunjung yang ingin menikmati kebudayaan setempat. “Kami harap strategi penataan ini tidak hanya memperindah tampilan fisik, tetapi juga memperkuat warisan budaya kita,” tambah Yadi.

Diskusi tentang strategi penataan kawasan Situ Ciburuy pun semakin menarik perhatian masyarakat. Beberapa penduduk setempat menilai bahwa kebijakan ini perlu lebih memperhatikan kebutuhan budaya dalam rencana pengembangan. Mereka menekankan bahwa budaya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari strategi keberlanjutan kawasan.

Adaptasi Masyarakat dan Harapan Strategis

Sementara itu, para seniman dan budayawan telah berusaha mengadaptasi kondisi saat ini. Mereka menggunakan ruang yang tersedia dengan maksimal, termasuk memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan seni setempat. Namun, banyak dari mereka mengakui bahwa strategi penataan belum sepenuhnya menyelaraskan dengan kebutuhan budaya.

Masyarakat mengharapkan strategi yang lebih inklusif, di mana Balai Pinton tidak hanya menjadi ruang fisik, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan kebudayaan. Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat, yang mengawasi proyek ini, berjanji akan mengoptimalkan peran Balai Pinton dalam memperkaya pengalaman wisatawan dan menjaga identitas lokal.

Dengan adanya strategi pengembangan yang lebih terpadu, harapan masyarakat semakin besar. Pemulihan Balai Pinton tidak hanya akan mengembalikan ruang seni, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kawasan wisata bisa menjadi medium untuk menjaga kebudayaan. Dalam beberapa tahun ke depan, penyelesaian proyek ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya.

Leave a reply