Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Solving Problems: Geopolitik Dunia Kian Bergejolak, Gubernur Lemhannas Tegaskan Ketahanan Nasional Dimulai dari Ketahanan Daerah

Elizabeth Davis - aruskabar.com 3 mins read

rah Diingatkan untuk Fokus pada Solving Problems Solving Problems - Dalam kondisi gejolak geopolitik global yang semakin intens, kekuatan nasional Indonesia

Solving Problems: Geopolitik Dunia Kian Bergejolak, Gubernur Lemhannas Tegaskan Ketahanan Nasional Dimulai dari Ketahanan Daerah

Geopolitik Dunia Kian Bergejolak, Pemimpin Daerah Diingatkan untuk Fokus pada Solving Problems

Solving Problems – Dalam kondisi gejolak geopolitik global yang semakin intens, kekuatan nasional Indonesia diuji dalam menjaga stabilitas dan kemajuan. Hal ini dijelaskan oleh Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, Gubernur Lemhannas RI, saat membuka Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Ruang Purnomo Yusgiantoro, Lemhannas RI, Selasa (15/7). Ace menekankan bahwa kunci untuk menghadapi tantangan global adalah memperkuat ketahanan daerah, karena wilayah-wilayah lokal menjadi fondasi utama dalam proses Solving Problems di tingkat nasional.

Ketahanan Daerah: Tantangan dan Solusi dalam Perubahan Global

Dunia kini berubah cepat, dengan pergeseran kekuatan geopolitik yang memengaruhi hampir seluruh negara. Ace menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa mengabaikan dampak konflik internasional, seperti perang tarif, kenaikan harga energi, atau gangguan rantai pasok. “Ketahanan nasional akan runtuh jika daerah-daerah tidak mampu mengatasi dinamika ini,” ujarnya. Dalam konteks Solving Problems, pemerintah daerah diharapkan menjadi garda depan dalam merespons perubahan global, termasuk dengan membangun kapasitas lokal yang tangguh.

“Geopolitik adalah seni mengatur kekuatan dan sumber daya,” kata Thomas Friedman, pakar geopolitik terkenal, yang dijadikan referensi Ace. Sementara Samuel Huntington menegaskan bahwa identitas nasional adalah penentu kepentingan negara, terutama dalam menghadapi tekanan dari perubahan politik dan ekonomi. Ace menggarisbawahi bahwa Solving Problems tidak hanya tentang mengatasi krisis, tapi juga menciptakan solusi yang berkelanjutan untuk pengembangan wilayah.

Konflik Global dan Penguatan Kapasitas Daerah

Dunia saat ini diperebutkan oleh tiga kekuatan utama: Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Ace menyoroti bahwa Indonesia, sebagai negara middle power, harus meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika tersebut. “Pemimpin daerah harus menjadi mitra strategis dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik,” katanya. Untuk menghadapi perubahan ini, Ace menyarankan pengembangan kapasitas daerah dalam manajemen sumber daya, penguatan keamanan, dan keberlanjutan ekonomi.

Dalam Solving Problems, Ace juga menekankan pentingnya kolaborasi antar daerah dan pusat. “Ketahanan nasional adalah akumulasi dari kekuatan daerah yang saling terhubung,” jelasnya. Hal ini mengingatkan bahwa kebijakan daerah tidak bisa dipisahkan dari upaya nasional dalam merespons isu global, seperti kenaikan harga minyak yang berdampak pada subsidi bahan bakar atau krisis migrasi akibat perang.

Kecerdasan Buatan dan Literasi Digital dalam Solving Problems

Di samping tantangan geopolitik, Ace juga mengingatkan peran teknologi dalam mengubah cara daerah menghadapi berbagai isu. Kecerdasan buatan (AI), misalnya, menjadi alat penting untuk meningkatkan efisiensi dalam pelayanan publik, namun juga bisa menjadi ancaman jika tidak disertai literasi digital yang baik. “Solusi terhadap perubahan teknologi harus disertai kebijakan yang memudahkan masyarakat daerah untuk mengikuti perkembangan ini,” tegasnya.

“Digital native menjadi pemimpin muda yang mampu beradaptasi dengan era baru,” tambah Ace. Ini mengingatkan bahwa dalam Solving Problems, daerah harus memanfaatkan inovasi teknologi sambil memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal. Pemimpin daerah diharapkan membangun ekosistem digital yang inklusif, termasuk melalui pendidikan dan kesadaran masyarakat akan potensi dan risiko teknologi.

Ketidakseimbangan Internal: Fokus pada Solving Problems

Indonesia masih menghadapi kelemahan internal yang perlu diperbaiki, seperti kualitas SDM, tingkat korupsi, dan iklim investasi. Ace mengungkapkan bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia mencapai 6,33 persen, sedangkan negara-negara lain seperti Vietnam hanya 4,6 persen. “Ini menunjukkan bahwa daerah harus lebih efisien dalam penggunaan sumber daya,” ujarnya. Solving Problems dalam konteks ini melibatkan reorientasi kebijakan daerah untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Ace juga menyoroti ancaman fenomena El NiƱo yang diprediksi BMKG akan memperparah kemarau panjang. Dalam Solving Problems, daerah harus siap dengan strategi mitigasi, seperti pengelolaan air dan pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. “Ketahanan daerah adalah jaminan ketahanan nasional,” pungkas Ace. Dengan memperkuat kapasitas lokal, Indonesia dapat menjadi lebih stabil dan resilien dalam menghadapi berbagai tekanan global.

Leave a reply