Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Key Discussion: Nasib Perpustakaan Gasibu yang Kini Rata dengan Tanah, Sekda Jabar Jamin Layanan Literasi Tak Mati

Elizabeth Davis - aruskabar.com 3 mins read

Nasib Perpustakaan Gasibu dan Kebijakan Literasi Jabar Key Discussion: Perubahan Bentuk Perpustakaan Gasibu Menjadi Fokus Diskusi Key Discussion tentang nasib

Key Discussion: Nasib Perpustakaan Gasibu yang Kini Rata dengan Tanah, Sekda Jabar Jamin Layanan Literasi Tak Mati

Nasib Perpustakaan Gasibu dan Kebijakan Literasi Jabar

Key Discussion: Perubahan Bentuk Perpustakaan Gasibu Menjadi Fokus Diskusi

Key Discussion tentang nasib Perpustakaan Gasibu yang kini rata dengan tanah menjadi sorotan utama dalam kebijakan ruang publik Jawa Barat. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menjelaskan bahwa keputusan menghancurkan gedung perpustakaan tersebut adalah bagian dari rencana penataan kawasan Gasibu-Gedung Sate yang lebih terpadu. Meski bangunan fisik diperbaiki, Pemprov Jabar menjamin layanan literasi tetap berjalan, baik melalui platform digital maupun metode bergerak. Proyek ini bertujuan menciptakan ruang publik yang lebih estetis, fungsional, dan dapat diakses oleh berbagai kalangan.

“Pembangunan ruang publik di Gasibu sudah melalui studi kelayakan dan harmonisasi dengan lingkungan sekitar. Kami yakin perpustakaan digital dan layanan keliling akan menjadi solusi yang lebih efisien,” kata Herman dalam rapat paripurna DPRD Jabar, Selasa, 14 Juli 2026.

Fokus pada Integrasi Fisik dan Digital dalam Literasi

Key Discussion ini juga mengupas strategi Pemprov Jabar dalam mengubah bentuk layanan literasi. Herman menjelaskan bahwa konsep perpustakaan digital Sunan Kalampayan akan menjadi pusat informasi dan pembelajaran berbasis teknologi yang mudah diakses oleh masyarakat. Sementara layanan bergerak atau perpustakaan keliling akan membawa sumber daya literasi ke daerah-daerah yang lebih terpencil, memperluas jangkauan layanan. “Layanan ini tidak hanya menyeimbangkan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menyediakan akses yang lebih cepat dan interaktif,” tambahnya.

Transformasi ini diharapkan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alpha, yang lebih akrab dengan digital. Herman menegaskan bahwa tidak ada penurunan kualitas literasi meski bentuk fisik perpustakaan berubah. “Layanan literasi tetap berjalan, hanya lebih modern dan adaptif,” jelasnya.

Konsep Penataan Ruang yang Berkelanjutan

Key Discussion tentang penataan ruang kawasan Gasibu juga menyentuh aspek berkelanjutan. Herman menyebutkan bahwa desain lanskap yang diusulkan akan terintegrasi dengan area sekitar, termasuk halaman Gedung Sate dan Monju. “Kami memprioritaskan harmonisasi antara bangunan dan lingkungan alami, agar ruang publik menjadi lebih nyaman dan dinamis,” ujarnya. Proyek ini tidak hanya memperbaiki tampilan fisik, tetapi juga mengoptimalkan fungsi ruang publik sebagai tempat pertemuan, kreativitas, dan pendidikan.

Dengan membangun sistem perpustakaan digital, Pemprov Jabar berupaya menyediakan akses informasi yang lebih luas dan terjangkau. Selain itu, keberadaan perpustakaan keliling akan memastikan layanan literasi tetap berjalan di berbagai wilayah, terutama daerah yang kurang memiliki infrastruktur pendidikan yang memadai. Herman menekankan bahwa perubahan ini bukan akhir dari layanan literasi, tetapi bagian dari proses transformasi yang lebih besar.

Peluang Meningkatkan Akses dan Partisipasi Masyarakat

Key Discussion ini menyoroti peluang yang terbuka oleh perubahan fisik perpustakaan. Meski bangunan lama dihancurkan, kebijakan literasi yang lebih modern diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama generasi muda. Herman menyebutkan bahwa perpustakaan digital akan menawarkan koleksi yang lebih lengkap, termasuk buku, artikel, dan video edukatif. “Kami juga mengembangkan program-program literasi yang lebih menarik, seperti diskusi online dan pelatihan digital,” lanjutnya.

Pembangunan ini juga dianggap sebagai langkah untuk memastikan layanan literasi tetap relevan di tengah perkembangan teknologi. Herman berharap perpustakaan digital akan menjadi sarana yang lebih efektif untuk menjangkau masyarakat, terutama di tengah pandemi dan perubahan kebiasaan belajar yang terjadi. “Pemprov Jabar terus berkomitmen untuk menjaga literasi sebagai prioritas,” tegasnya.

Langkah Strategis dalam Menghadapi Tantangan Ruang Publik

Pemprov Jabar mengakui bahwa perubahan bentuk perpustakaan Gasibu memberikan tantangan dalam mempertahankan fungsinya sebagai pusat literasi. Namun, Herman menegaskan bahwa strategi ini dirancang untuk menciptakan ruang yang lebih efektif dan responsif. “Kami menggabungkan elemen digital dan fisik agar layanan literasi tetap dapat diakses dengan mudah,” jelasnya. Keberadaan perpustakaan keliling, misalnya, akan memastikan keberlanjutan akses informasi di lingkungan yang lebih inklusif.

Dengan Key Discussion yang terus berkembang, Pemprov Jabar juga berharap masyarakat bisa beradaptasi dengan perubahan ini. Herman mengatakan bahwa perpustakaan digital dan bergerak akan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih holistik. “Kami menilai ini adalah langkah kreatif untuk menjaga ruang publik tetap hidup dan relevan di masa depan,” pungkasnya.

Leave a reply