Solving Problems: Bandung Dikepung 1.511 Ton Sampah Setiap Hari, DLH Kesulitan Cari Tempat Pengolahan
Ton Sampah Setiap Hari, DLH Kesulitan Cari Tempat Pengolahan Solving Problems - Kota Bandung kembali menjadi sorotan karena kesulitan dalam mengatasi
Solving Problems: Bandung Dikepung 1.511 Ton Sampah Setiap Hari, DLH Kesulitan Cari Tempat Pengolahan
Solving Problems – Kota Bandung kembali menjadi sorotan karena kesulitan dalam mengatasi penumpukan sampah yang mencapai 1.511 ton per hari. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang berupaya mencari solusi untuk memecahkan masalah ini, terutama dalam mencari lahan pengolahan yang memadai. Solusi yang ditemukan harus mampu mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah dan mencegah dampak negatif terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Kesulitan Pemenuhan Tempat Pengolahan Sampah
Kendala utama yang dihadapi DLH adalah keterbatasan ruang untuk menampung dan memproses sampah. Dengan volume sampah harian yang mencapai 1.511 ton, kebutuhan area pengolahan justru lebih besar dari kapasitas yang ada. Dadang Setiawan, Sekretaris DLH, mengatakan bahwa hingga kini, hanya sekitar 40 titik potensial yang sedang dikaji, meski jumlah ini masih tergolong kecil. “Masih dalam proses inventarisasi karena keterbatasan lahan,” jelasnya Selasa, 7 Juli 2026.
“Prinsip kita adalah optimalisasi pengolahan di hulu dengan berbagai metode,” ujarnya.
Menurut Dadang, lokasi yang ideal untuk tempat pengolahan sampah harus mempertimbangkan faktor geografis, aksesibilitas, dan kapasitas pemrosesan. Tantangan ini semakin rumit karena kota Bandung memiliki permukiman padat dan daerah industri yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Dengan begitu, DLH terus berusaha mencari strategi penyelesaian masalah yang efektif dan berkelanjutan.
Strategi Transformasi Sistem Pengelolaan Sampah
Pemkot Bandung tengah mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah, yaitu mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Targetnya adalah membangun hingga 220 titik pengolahan berbasis kewilayahan, sehingga setiap RW dapat memaksimalkan upaya pengelolaan sampah secara mandiri. Solusi ini bertujuan mengoptimalkan pengolahan di tingkat awal, seperti pengumpulan dan daur ulang, untuk mengurangi beban pengangkutan ke TPA.
Dadang menyebutkan bahwa perubahan ini membutuhkan kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat. Dengan pengolahan di hulu, kota bisa mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA. Selain itu, solusi ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah dan mendukung ekonomi daerah melalui aktivitas daur ulang. “Kita perlu membangun sistem yang lebih terpadu dan berkelanjutan,” tambahnya.
Data Volume Sampah dan Tantangan Kapasitas Olah
Dari data internal DLH, volume sampah harian yang dihasilkan masyarakat Bandung mencapai 1.511 ton per hari. Namun, kapasitas pengolahan sampah saat ini hanya sekitar 250 hingga 300 ton per hari, sehingga sebagian besar sampah masih dikirim ke TPA Sarimukti. Solving Problems dalam pengelolaan sampah memerlukan perbaikan kapasitas pengolahan serta perluasan jaringan pengumpulan sampah yang teratur.
Menurut Dadang, kurangnya kapasitas olah sampah menyebabkan penumpukan di TPA Sarimukti yang telah mencapai 981 ton per hari. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, kebutuhan lahan pengolahan akan terus meningkat. Solusi jangka panjang harus mencakup pengembangan teknologi pengolahan sampah serta pemanfaatan lahan yang tidak terpakai atau ruang terbuka hijau untuk keperluan tersebut.
Pemkot Bandung juga sedang merancang kebijakan pembatasan sampah organik dan plastik yang bisa diproses secara lebih efisien. Dengan memperkuat pengelolaan di tingkat RW dan kecamatan, kota dapat mengurangi tekanan pada TPA dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Solving Problems dalam konteks ini tidak hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga tentang kesejahteraan masyarakat dan konservasi lingkungan hidup.
