Skip to content
Royal desk
Agustus 3, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Main Agenda: Buka P4N 70, Gubernur Lemhannas: Pendidikan Ini Bentuk Kepemimpinan Antisipatif dan Adaptif

Richard Anderson - aruskabar.com 4 mins read

Main Agenda: P4N 70, Gubernur Lemhannas Ingatkan Pentingnya Kepemimpinan Antisipatif dan Adaptif Main Agenda - Dalam acara pembukaan P4N Angkatan LXX

Main Agenda: Buka P4N 70, Gubernur Lemhannas: Pendidikan Ini Bentuk Kepemimpinan Antisipatif dan Adaptif

Main Agenda: P4N 70, Gubernur Lemhannas Ingatkan Pentingnya Kepemimpinan Antisipatif dan Adaptif

Main Agenda – Dalam acara pembukaan P4N Angkatan LXX, Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., menekankan peran pendidikan sebagai pilar dalam membentuk pemimpin nasional yang mampu menghadapi perubahan global. Acara ini berlangsung pada Selasa (30/6) di Gedung Pancagatra, dan mengusung tema “Pemantapan Kapasitas Pimpinan Tingkat Nasional Guna Mendukung Asta Cita dalam rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045.” Dengan jumlah peserta mencapai 110 orang, P4N 70 menjadi ajang penting untuk memperkuat kemampuan para pemimpin dalam mengelola isu strategis dan membangun visi jangka panjang.

Kepemimpinan Berbasis Astagatra

“Pendidikan di Lemhannas RI ini menjadi wahana strategis untuk melahirkan pemimpin yang memiliki kemampuan berpikir antisipatif, adaptif terhadap perubahan, serta peka terhadap pergeseran geopolitik dan geoekonomi global,” ujar Ace Hasan Syadzily dalam sambutannya.

Main Agenda dalam P4N 70 dirancang untuk mengintegrasikan pendekatan astagatra, yang mencakup aspek kebijakan, struktur, dan kemampuan penerapan strategi. Gubernur Lemhannas menjelaskan bahwa pendidikan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga melatih peserta dalam mengambil keputusan yang berdampak jangka panjang, sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Pemimpin yang dibentuk melalui program ini diharapkan mampu memimpin dengan visi holistik, menggabungkan perspektif lokal, regional, dan global. Ace menegaskan bahwa keahlian ini penting untuk menghadapi tantangan di masa depan, seperti perubahan iklim, digitalisasi, dan pergeseran dinamika politik internasional. “Main Agenda P4N 70 bertujuan memperkuat kapasitas peserta menjadi arsitek kebijakan strategis yang mampu mengintegrasikan berbagai perspektif ke dalam keputusan pemerintahan,” tambahnya.

Isi Materi dan Fokus Pembelajaran

Program P4N Angkatan LXX mencakup berbagai topik kritis, termasuk wawasan kebangsaan, analisis kebijakan, dan strategi ketahanan nasional. Pemimpin yang ikut serta akan belajar bagaimana mengelola risiko, memanfaatkan peluang, serta menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Gubernur Lemhannas menjelaskan bahwa materi ini dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap tantangan multidimensi, termasuk isu-isu seperti penguatan integritas, antikorupsi, transformasi ekonomi, dan konsolidasi demokrasi.

Salah satu Main Agenda utama dalam P4N 70 adalah peningkatan kemampuan para peserta dalam memproyeksikan langkah-langkah antisipatif. Ace Hasan Syadzily mengatakan bahwa pemimpin yang dibentuk melalui program ini tidak hanya merespons isu aktual, tetapi juga membangun strategi untuk masa depan. “Main Agenda ini membantu peserta mengembangkan kemampuan berpikir strategis, serta mampu menerapkan Asta Cita sebagai kerangka transformasi,” ujarnya. Asta Cita, yang menjadi acuan utama, berisi delapan prinsip kebijakan yang bertujuan menjamin kemandirian, kedaulatan, dan kemajuan Indonesia.

Peserta dari Berbagai Instansi

Kegiatan ini menarik partisipasi peserta dari berbagai lembaga, termasuk TNI AD (25 orang), AL (17 orang), AU (12 orang), Polri (31 orang), serta institusi pemerintahan lainnya. Peserta juga berasal dari lembaga negara, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat. Dengan keberagaman latar belakang, P4N 70 diharapkan mampu menyatukan perspektif berbeda dalam membentuk kepemimpinan nasional yang kompeten dan berkelanjutan.

“Pemimpin yang dibentuk melalui Main Agenda ini akan siap menerapkan strategi adaptif dalam menghadapi dinamika perubahan,” kata Ace Hasan Syadzily. Ia menambahkan bahwa program ini memberikan bekal untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam mengelola isu-isu strategis dan memperkuat tata kelola pemerintahan.

Selain itu, para peserta juga akan mempelajari tentang kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan isu-isu kebijakan yang relevan dengan masa depan Indonesia. Program ini berlangsung selama beberapa minggu dan melibatkan diskusi, simulasi, serta pembelajaran langsung dari para ahli.

Peluang dan Tantangan Pemimpin Masa Depan

Pembukaan P4N 70 menjadi momentum penting dalam mempersiapkan generasi pemimpin yang mampu menghadapi berbagai dinamika. Ace Hasan Syadzily menekankan bahwa Main Agenda ini bertujuan memperkuat kemampuan peserta dalam mengambil keputusan cepat dan tepat. “Dengan membangun kepemimpinan antisipatif dan adaptif, peserta akan mampu menjawab tantangan di masa depan, seperti perubahan iklim, digitalisasi, dan krisis ekonomi global,” jelasnya.

Sebagai bagian dari pembelajaran, peserta juga diberikan wawasan tentang bagaimana memperkuat kedaulatan nasional melalui kebijakan yang terpadu. Gubernur Lemhannas mengingatkan bahwa pendidikan ini bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga untuk menciptakan pemimpin yang visioner dan berorientasi pada keberlanjutan. “Main Agenda P4N 70 memberikan dasar bagi peserta untuk menjadi pilar transformasi dalam pembangunan Indonesia,” tambahnya.

Acara ini juga menjadi wadah dialog antara pemimpin dari berbagai sektor. Dengan menggabungkan pengetahuan dan pengalaman, peserta diharapkan mampu berkolaborasi dan menciptakan solusi strategis. Dalam masa depan, pemimpin yang dihasilkan dari program ini diharapkan mampu menggerakkan organisasi, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta membangun visi yang sejalan dengan target Indonesia Emas 2045. Main Agenda P4N 70 menunjukkan komitmen Lemhannas RI untuk mencetak pemimpin yang siap menghadapi berbagai tantangan di era digital dan globalisasi.

Leave a reply