Skip to content
Royal desk
Juni 24, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

New Policy: Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara: Takut Dapat Telepon dari Sana-sini

David Davis 4 mins read

Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara karena Tekanan New Policy New Policy - Dalam konteks New Policy yang tengah menjadi perdebatan politik di

New Policy: Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara: Takut Dapat Telepon dari Sana-sini

Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara karena Tekanan New Policy

New Policy – Dalam konteks New Policy yang tengah menjadi perdebatan politik di Indonesia, Deddy Yevri Sitorus, anggota Komisi II DPR RI, memberikan kritik terhadap dinamika demokrasi di parlemen. Ia mengungkapkan bahwa kebijakan New Policy, yang mengusung pendekatan pengawasan lebih ketat terhadap kekuasaan eksekutif, membuat sejumlah anggota DPR merasa cemas dalam menyampaikan pandangan. Menurut Deddy, kekhawatiran tersebut terutama muncul karena kecemasan akan tekanan dari berbagai pihak, baik internal maupun eksternal, yang mengakibatkan keterbatasan ruang untuk berbicara secara bebas. New Policy, menurutnya, memberikan dampak signifikan terhadap keterbukaan dan independensi anggota dewan.

Pengaruh New Policy pada Lingkungan Politik DPR

Deddy menyoroti bahwa kebijakan New Policy bukan hanya memengaruhi interaksi antarpartai, tetapi juga mengubah dinamika hubungan antara DPR dan lembaga pemerintah. Ia menjelaskan bahwa anggota dewan yang berada di luar pemerintahan sering kali merasa kurang aman untuk menyuarakan kritik atau aspirasi karena adanya intervensi telepon dari berbagai pihak. Hal ini, menurut Deddy, mengurangi fungsi DPR sebagai lembaga yang menjunjung transparansi dan akuntabilitas. New Policy, yang dirancang untuk memperkuat kontrol terhadap kebijakan pemerintah, justru berpotensi menciptakan situasi di mana anggota dewan lebih memilih diam daripada tampil sebagai oposisi.

“Kita bisa melihat banyak anggota DPR yang takut bersuara karena merasa terancam oleh tekanan dari pihak-pihak yang berada di luar lingkaran kekuasaan. New Policy ini memperketat batasan, sehingga mereka lebih banyak mengikuti arah yang ditentukan oleh pihak tertentu,” ujarnya kepada wartawan pada hari Sabtu, 20 Juni 2026.

Analisis Dampak New Policy pada Partai Politik

Deddy mengakui bahwa New Policy menjadi pengubah mendasar dalam peran partai politik, terutama PDIP yang sebelumnya memilih berada di luar pemerintahan Prabowo Subianto. Ia menilai bahwa kebijakan ini memaksa partai politik untuk menjaga konsistensi sikap, baik sebagai penyeimbang maupun pendukung pemerintah. Menurut Deddy, New Policy mengharuskan anggota DPR mempertimbangkan dampak politik dari setiap suara yang disampaikan, sehingga banyak yang ragu untuk tampil lebih kritis. Ia menegaskan bahwa New Policy wajar dalam sistem demokrasi, tetapi harus diimbangi dengan kebebasan untuk mengkritik kebijakan pemerintah tanpa takut dihukum atau ditekan.

Dalam wawancara terpisah, Deddy menjelaskan bahwa New Policy bertujuan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga, tetapi juga berpotensi menekan ruang untuk perbedaan pendapat. Ia mengkritik sikap sebagian orang yang menganggap semua partai politik seharusnya bekerja dalam satu garis, karena New Policy menurutnya mengandung elemen kontrol yang terlalu dominan. Deddy menekankan bahwa keberagaman politik adalah bagian penting dari demokrasi, dan New Policy harus menjadi alat untuk memperkuat, bukan mengurangi, fungsi pengawasan DPR.

Perbandingan dengan Sistem Demokrasi Lainnya

Deddy membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara-negara demokrasi lainnya. Ia menyatakan bahwa di sistem demokrasi yang sehat, oposisi dianggap sebagai bagian penting untuk menjaga keseimbangan kekuasaan. Sebaliknya, New Policy menurutnya mengarah pada sistem di mana partai politik yang tidak mendukung pemerintahan menjadi korban tekanan. “Negara-negara dengan semua kekuatan politik berada di satu garis biasanya memiliki sistem yang tidak memberikan ruang luas bagi oposisi,” tambahnya. Deddy menekankan bahwa New Policy yang diterapkan saat ini bisa menciptakan dinamika di mana anggota DPR lebih memilih menutup suara daripada berbicara bebas.

Dalam konteks New Policy, Deddy juga mengungkapkan bahwa kecemasan anggota DPR bukan hanya terkait tekanan politik, tetapi juga terkait dampak pada reputasi partai mereka. Ia menyoroti bahwa suara kritis dari anggota dewan bisa membuat partai terlihat tidak konsisten atau kurang mendukung kebijakan pemerintah. Menurut Deddy, New Policy harus dirancang agar tidak mengorbankan fungsi DPR sebagai pengawas yang independen. Ia menambahkan bahwa meskipun New Policy dianggap sebagai langkah untuk memperkuat kebijakan pemerintah, penting bagi DPR untuk tetap menjaga ruang bagi perbedaan pandangan.

Kesimpulan: New Policy dan Perjalanan Demokrasi Indonesia

Deddy Yevri Sitorus menutup wawancaranya dengan menekankan bahwa New Policy adalah kebijakan yang memerlukan evaluasi terus-menerus. Ia berharap pihak-pihak yang mengusung New Policy bisa lebih memahami dinamika partai politik dan pentingnya kebebasan bersuara di parlemen. “New Policy harus menjadi penggerak untuk memperkuat demokrasi, bukan penghalang bagi suara kritis,” katanya. Deddy memandang bahwa kebijakan New Policy, meskipun memberikan kontrol yang lebih ketat, harus tetap menghargai peran anggota DPR sebagai bagian dari sistem demokrasi yang sehat. Ia menilai bahwa dengan New Policy yang dirancang secara baik, Indonesia bisa menjadi contoh negara demokrasi yang konsisten dalam pengawasan dan kebebasan berbicara.

Leave a reply