Skip to content
Royal desk
Juni 24, 2026 ArusKabar menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Latest Update: Terungkap, Ketua BEM FH UBK Akui Terima Uang untuk Gagalkan Aksi di Depan Istana Negara

Richard Johnson 3 mins read

Latest Update: Ketua BEM FH UBK Terima Uang Gagalkan Aksi di Depan Istana Negara Latest Update - Terbaru, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum

Latest Update: Terungkap, Ketua BEM FH UBK Akui Terima Uang untuk Gagalkan Aksi di Depan Istana Negara

Latest Update: Ketua BEM FH UBK Terima Uang Gagalkan Aksi di Depan Istana Negara

Latest Update – Terbaru, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdi Maludin, mengakui menerima uang dari pihak tertentu untuk menggagalkan aksi mahasiswa yang direncanakan di depan Istana Negara. Pengakuan ini muncul setelah terjadi perdebatan mengenai keterlibatan organisasi mahasiswa dalam kegiatan protes yang menimbulkan kontroversi. Dalam pernyataan terbaru, Abdi menjelaskan bahwa uang tersebut diberikan sebelum aksi berlangsung pada 15 Juni 2026, dengan tujuan memastikan tindakan mahasiswa tidak terlaksana secara efektif.

Proses Klarifikasi dan Keterlibatan Civitas Akademika

Pengakuan Abdi diungkapkan dalam sebuah forum klarifikasi yang digelar di kampus UBK. Forum tersebut dihadiri oleh mahasiswa serta civitas akademika, termasuk dosen dan pengurus fakultas. Dalam penyampaian, Abdi menegaskan bahwa ia tidak menyembunyikan fakta dan bersedia menjelaskan alur dana yang diterimanya. Ia juga menyebut bahwa uang tersebut berasal dari sumber yang tidak secara langsung terkait dengan institusi kampus, meski masih dalam investigasi.

Konteks Aksi Mahasiswa dan Dugaan Sumber Dana

Aksi mahasiswa yang gagal dilaksanakan di depan Istana Negara pada 15 Juni 2026 sempat menarik perhatian publik. Aksi tersebut disebut-sebut bertujuan menyampaikan aspirasi mengenai kebijakan pemerintah dan situasi kampus. Namun, muncul dugaan bahwa dana yang diterima Abdi berasal dari oknum polisi, yang kemudian memicu tudingan keterlibatan lembaga keamanan dalam mengganggu kebebasan berdemo. Selain itu, dana itu diduga digunakan untuk membeli pengaruh atau memberikan insentif kepada anggota BEM agar membatalkan rencana aksi.

Detail Penjelasan dan Langkah Selanjutnya

Menurut Abdi, uang yang diterimanya digunakan untuk memastikan para anggota BEM tidak terlibat dalam aksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak pemberi dana menghubungi tim BEM beberapa hari sebelum aksi berlangsung dan menawarkan bantuan keuangan untuk memudahkan pembatalan kegiatan. Meski demikian, Abdi menegaskan bahwa ia tetap bersikap transparan dan membuka diri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ia juga menyebut bahwa pengakuan ini adalah bagian dari upaya memperjelas fakta dan memperbaiki citra BEM FH UBK.

Kontroversi dan Respons Masyarakat

Kontroversi terkait pengakuan Abdi semakin memanas, terutama di kalangan mahasiswa yang merasa dikhianati. Beberapa kelompok mahasiswa menuntut klarifikasi lebih lanjut mengenai sumber dana tersebut dan apakah ada pihak lain yang turut terlibat. Sementara itu, masyarakat sipil dan organisasi kemasyarakatan meminta pihak berwenang untuk menyelidiki lebih dalam, karena kasus ini dianggap berkaitan dengan perlindungan hak rakyat untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat.

Kesimpulan dan Impak Terhadap Budaya Demokrasi

Aksi ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya potensi manipulasi keuangan dalam rangka menggagalkan upaya mahasiswa. Dengan pengakuan Abdi, kasus ini dipandang sebagai bukti bahwa budaya demokrasi di kalangan lembaga kampus masih bisa terganggu oleh kepentingan pihak tertentu. Meski begitu, masih ada yang berpendapat bahwa dana tersebut hanya sebagai alat untuk mempercepat pengambilan keputusan, bukan untuk menghalangi kebebasan berdemo secara total. Proses investigasi terus berlangsung, dengan harapan dapat memberikan penjelasan yang jelas dan menjamin transparansi dalam kegiatan BEM.

“Latest Update: Setiap tindakan harus didasari kejujuran dan transparansi, terutama dalam kegiatan yang bertujuan menggugah opini publik,” ujar Abdi dalam forum klarifikasi tersebut.

Leave a reply