57 Pelajar Kendari Diduga Keracunan MBG, BGN Investigasi SPPG Watubangga
Aruskabar.com – Kasus 57 Pelajar Kendari Diduga Keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN). Para pelajar tersebut dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga Baruga di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
BGN merespons kejadian itu dengan membuka investigasi menyeluruh. Selain menelusuri penyebab keluhan kesehatan, lembaga tersebut juga menghentikan sementara operasional SPPG Watubangga agar pemeriksaan dapat dilakukan secara terfokus.
BGN Periksa Rantai Penyediaan Makan Bergizi Gratis
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Kendari, Mulyadi, mengatakan pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada makanan yang telah dibagikan kepada pelajar. Investigasi mencakup seluruh proses pelayanan, mulai dari pengadaan bahan pangan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Tahapan yang diperiksa meliputi penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pemrosesan, serta pengiriman makanan. Penelusuran dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat bagian dari prosedur pelayanan yang tidak berjalan sesuai ketentuan.
“Tujuannya untuk mencari penyebab kelalaian dalam pelayanan makan bergizi yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP) dari BGN,” kata Mulyadi dikutip Senin (21/9/2026).
Pemeriksaan terhadap setiap mata rantai diperlukan karena keamanan pangan dipengaruhi banyak tahap. Kondisi bahan saat diterima, cara penyimpanan, kebersihan saat memasak, pengelolaan waktu penyajian, hingga proses distribusi dapat menjadi bagian yang dievaluasi.
Operasional SPPG Watubangga Dihentikan Sementara
Penghentian sementara operasional SPPG Watubangga Baruga menjadi salah satu langkah penanganan BGN dalam kasus dugaan keracunan MBG di Kendari. Kebijakan ini diterapkan selama proses investigasi dan evaluasi masih berlangsung.
SPPG berperan menyiapkan serta menyalurkan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Karena itu, standar operasional di unit pelayanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kelancaran pembagian makanan, tetapi juga dengan kualitas dan keamanan pangan yang diterima pelajar.
Dalam layanan makanan skala besar, bahan pangan harus diperiksa sejak awal pengadaan. Setelah diterima, bahan perlu disimpan dengan tepat sebelum diolah. Tahap pemrosesan dan distribusi juga harus dijalankan secara konsisten agar makanan tetap layak saat sampai ke sekolah.
Evaluasi SOP Jadi Fokus Penanganan
Peristiwa 57 Pelajar Kendari Diduga Keracunan mendorong BGN untuk menelaah kepatuhan terhadap SOP pelayanan makan bergizi. Hasil investigasi diharapkan dapat mengungkap titik yang perlu diperbaiki dalam proses penyediaan makanan di SPPG Watubangga.
Bagi keluarga dan pihak sekolah, perhatian utama adalah penanganan pelajar yang mengalami keluhan kesehatan serta kejelasan penyebab kejadian. Evaluasi yang menyeluruh penting untuk memastikan perbaikan dilakukan berdasarkan temuan pemeriksaan.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa penyediaan makanan bergizi memerlukan pengawasan ketat dari awal hingga akhir. Mutu bahan baku, kebersihan pengolahan, ketepatan penyimpanan, dan keamanan distribusi harus berada dalam standar yang sama.
FAQ Dugaan Keracunan MBG di Kendari
Berapa jumlah pelajar yang diduga mengalami keracunan?
Sebanyak 57 pelajar di Kota Kendari dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis.
Apa langkah yang dilakukan BGN?
BGN melakukan investigasi terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan dan menghentikan sementara operasional SPPG Watubangga Baruga selama pemeriksaan berlangsung.
Apa saja yang diperiksa dalam investigasi?
Pemeriksaan mencakup pengadaan bahan pangan, penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pemrosesan, hingga distribusi makanan kepada pelajar.
Mengapa operasional SPPG Watubangga dihentikan?
Penghentian sementara dilakukan agar evaluasi terhadap dugaan ketidaksesuaian SOP pelayanan makan bergizi dapat berjalan dengan fokus dan terukur.

