News

Gaji Guru Honorer Bakal Diatur dalam RUU Sisdiknas, Apakah Setara UMP?

2777574274

Rancangan Standar Upah Guru Non-ASN Masuk Pembahasan RUU Sisdiknas

Aruskabar.com – Pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional atau RUU Sisdiknas kembali menempatkan kesejahteraan guru honorer sebagai isu penting. Komisi X DPR RI telah menyetujui prinsip perlunya pengaturan standar upah minimum bagi guru non-ASN, sebuah kelompok yang mencakup guru honorer, guru swasta, serta guru madrasah.

Kesepakatan prinsip tersebut dibicarakan dalam rapat Komisi X DPR RI pada 7 Oktober 2026. Arah kebijakan ini memberi sinyal bahwa persoalan pendapatan tenaga pendidik non-aparatur sipil negara akan memperoleh ruang pengaturan dalam rancangan undang-undang pendidikan nasional.

Namun, pembahasan itu belum menetapkan angka penghasilan minimum yang akan berlaku. Karena nominalnya belum diputuskan, belum dapat dipastikan apakah standar upah bagi guru honorer nantinya disamakan dengan upah minimum provinsi (UMP), mengikuti upah minimum kabupaten/kota (UMK), atau menggunakan rumusan lain yang disesuaikan dengan karakteristik sektor pendidikan.

Belum Ada Kepastian UMP atau UMK

Pertanyaan mengenai acuan pengupahan menjadi perhatian utama karena UMP dan UMK dapat memiliki nilai berbeda di setiap daerah. UMP berlaku pada tingkat provinsi, sedangkan UMK ditetapkan untuk wilayah kabupaten atau kota. Dalam banyak kasus, nilai UMK dapat berbeda dari UMP karena mempertimbangkan kondisi ekonomi serta kebutuhan hidup di wilayah masing-masing.

RUU Sisdiknas masih berada dalam tahap pembahasan sehingga rincian mengenai mekanisme, nominal, pihak yang bertanggung jawab, dan cakupan penerima belum dipastikan melalui keputusan akhir. Persetujuan terhadap prinsip standar minimum belum otomatis berarti setiap guru non-ASN akan menerima jumlah yang sama di seluruh Indonesia.

Karena itu, publik perlu membedakan antara kesepakatan untuk memasukkan isu upah minimum ke dalam pengaturan dan penetapan besaran upah yang benar-benar berlaku. Tahap berikutnya akan menentukan apakah ketentuan itu memakai patokan UMP, UMK, formula khusus, atau kombinasi unsur tertentu.

Mengapa Pengaturan Ini Penting bagi Guru Non-ASN

Guru non-ASN terdiri dari kelompok yang bekerja dalam beragam satuan pendidikan. Ada guru honorer, pendidik di sekolah swasta, dan guru madrasah. Kondisi kerja serta pola penghasilan mereka tidak selalu seragam, sehingga pembahasan standar upah minimum menjadi relevan dalam upaya memberi kepastian dasar mengenai penghargaan atas pekerjaan mengajar.

Pengaturan dalam undang-undang juga berpotensi menjadi pijakan yang lebih jelas bagi sekolah, penyelenggara pendidikan, dan pemerintah dalam membahas perlindungan kesejahteraan guru. Meski demikian, manfaat konkretnya akan sangat bergantung pada bunyi ketentuan akhir dan aturan pelaksanaan yang menyertainya.

Selain besaran upah, pelaksanaan kebijakan perlu menjawab persoalan praktis. Misalnya, siapa yang masuk kategori penerima, bagaimana status guru pada lembaga pendidikan yang berbeda, serta bagaimana standar tersebut diterapkan di daerah dengan kemampuan ekonomi yang tidak sama. Hal-hal ini belum dijelaskan dalam kesepakatan prinsip yang dibahas Komisi X DPR RI.

Perlu Kejelasan Mekanisme Pelaksanaan

Penetapan standar pendapatan tidak hanya berkaitan dengan angka. Aturan yang efektif juga membutuhkan definisi yang jelas mengenai guru non-ASN, prosedur pengawasan, serta jalur penyelesaian apabila ketentuan upah tidak dijalankan. Tanpa rincian tersebut, tujuan memberikan kepastian bagi tenaga pendidik dapat sulit diterapkan secara merata.

Dalam konteks pendidikan, kebijakan pengupahan juga berkaitan dengan keberlanjutan layanan belajar. Guru memiliki peran langsung dalam proses pembelajaran sehari-hari. Oleh sebab itu, pembicaraan mengenai standar upah minimum tidak semata menyentuh urusan pendapatan individu, tetapi juga menyangkut pengakuan terhadap pekerjaan profesional di lingkungan sekolah dan madrasah.

Meski begitu, belum tepat menyimpulkan bahwa gaji guru honorer pasti akan setara UMP atau UMK. Informasi yang telah mengemuka baru menunjukkan adanya persetujuan prinsip untuk mengatur standar upah minimum guru non-ASN dalam RUU Sisdiknas.

Apa yang Perlu Dicermati Publik

Perkembangan pembahasan RUU Sisdiknas perlu dicermati terutama pada bagian yang mengatur definisi penerima, standar nominal, sumber pembiayaan, serta kewajiban pihak penyelenggara pendidikan. Keempat unsur itu akan menentukan dampak nyata bagi guru honorer, guru swasta, dan guru madrasah.

Jika pembahasan kemudian mengarah pada penggunaan UMP, standar akan mengikuti ketetapan tingkat provinsi. Bila UMK dipilih sebagai acuan, penerapannya bisa lebih spesifik sesuai kabupaten atau kota. Sementara itu, rumusan tersendiri dapat membuka kemungkinan adanya pendekatan yang dirancang khusus untuk sektor pendidikan. Semua pilihan tersebut masih memerlukan kepastian dalam naskah regulasi.

Bagi guru non-ASN, pembahasan ini merupakan perkembangan penting karena isu standar penghasilan telah masuk ke agenda legislasi pendidikan. Namun, kepastian mengenai nominal dan bentuk perlindungan baru dapat dinilai setelah ketentuan RUU Sisdiknas dirumuskan lebih lanjut dan memperoleh keputusan final.

Frequently Asked Questions

What is Gaji Guru Honorer Bakal Diatur?

Gaji Guru Honorer Bakal Diatur is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Gaji Guru Honorer Bakal Diatur matter?

Gaji Guru Honorer Bakal Diatur matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *