Pengamat soal Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Prabowo: Terlalu Ambisius dan Butuh Efektif
Pengamat: Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Terlalu Ambisius
Aruskabar.com – Pengamat soal Target Pertumbuhan Ekonomi 8 persen kembali menyuarakan kekhawatiran setelah Presiden Prabowo Subianto menetapkan laju PDB tahunan sebesar 8 persen sebagai kompas pembangunan pemerintahannya. Angka itu bukan sekadar proyeksi statistik; ia menandai lompatan yang belum pernah diraih Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Jarak antara ambisi kebijakan dan kapasitas riil perekonomian menciptakan persoalan yang menuntut jawaban struktural, bukan sekadar retorika politik.
Mengapa Angka 8 Persen Menyimpang dari Laju Historis
Esther Sri Astuti, ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut sasaran tersebut sangat ambisius. Data menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan Indonesia sepanjang 2021–2025 hanya mencapai sekitar 4,8 persen per tahun. Melompat dari titik itu ke delapan persen berarti mengakselerasi laju pertumbuhan hampir 1,7 kali lipat dari tren yang baru saja dilalui — sebuah percepatan yang tidak memiliki preseden dalam era pascareformasi.
Periode pemulihan pasca-pandemi itu sendiri sudah membuktikan batasannya. Tahun 2020 mencatatkan kontraksi akibat pembatasan aktivitas, sementara tahun-tahun berikutnya mencatatkan pemulihan bertahap yang ditopang pembukaan sektor jasa, bangkitnya konsumsi rumah tangga, dan normalisasi rantai pasok global. Kendati seluruh faktor pemulihan tersebut bekerja secara simultan, hasil yang tercapai tetap jauh di bawah ambang delapan persen. Dengan kata lain, mendorong sektor-sektor yang sudah ada "lebih keras" tidak akan cukup; yang diperlukan adalah transformasi struktural yang jauh lebih dalam.
Sumber Pertumbuhan Baru dan Tantangan Struktural
Dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat (4/9/2026), Esther menegaskan bahwa pendekatan konvensional tidak lagi memadai untuk menjawab skala pertumbuhan yang ditargetkan.
"Kita harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, tidak hanya pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang konvensional."
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa sektor-sektor tradisional — pertanian, pertambangan, manufaktur ringan, perdagangan ritel — tidak akan mampu menggerakkan roda ekonomi pada kecepatan yang diinginkan. Identifikasi dan pengembangan sektor baru seperti ekonomi digital, teknologi hijau, industri pertahanan, pengolahan hilir bernilai tambah tinggi, serta jasa keuangan terintegrasi ekosistem inovasi menjadi prasyarat mutlak.
Sejarah memperkuat argumen tersebut. Laju pertumbuhan di atas 7 persen hanya pernah tercatat pada era 1960-an hingga awal 1970-an, ketika basis ekonomi nasional masih sangat kecil dan negara berada di fase industrialisasi awal. Setelah itu, rata-rata tahunan Indonesia berkisar 4–6 persen, dengan lonjakan sesekali berkat siklus komoditas global. Mencapai delapan persen secara berkelanjutan berarti melampaui seluruh rekor pertumbuhan pascareformasi 1998 — sebuah pencapaian yang terhambat oleh ketergantungan ekspor bahan mentah, produktivitas tenaga kerja yang rendah, hambatan birokrasi daerah, keterbatasan logistik di luar Jawa, serta kerentanan terhadap guncangan harga komoditas internasional.
Implikasi Kebijakan dan Risiko Jangka Pendek
Jika pemerintah sungguh-sungguh mengejar target tersebut, seluruh instrumen fiskal, moneter, dan regulasi harus diarahkan ulang. Alokasi anggaran perlu digeser dari subsidi konsumtif ke investasi produktif; reformasi pasar tenaga kerja harus mempercepat penyerapan tenaga kerja terampil; deregulasi di sektor-sektor tumpang tindih kewenangan pusat-daerah menjadi prasyarat agar modal dan inovasi mengalir tanpa hambatan birokratis.
Di sisi lain, tekanan mengejar angka tinggi berisiko mendorong kebijakan jangka pendek yang mengorbankan keberlanjutan lingkungan atau stabilitas keuangan. Kecepatan tanpa arah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan rapuh — tinggi di atas kertas namun tidak inklusif dan tidak tahan terhadap guncangan eksternal.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Apakah target 8 persen pernah dicapai Indonesia sebelumnya?
Hanya pada era 1960-an hingga awal 1970-an, ketika basis ekonomi nasional masih sangat kecil. Sejak reformasi 1998, rata-rata pertumbuhan tahunan berkisar 4–6 persen dan belum pernah menyentuh angka delapan secara berkelanjutan.
Siapa yang menilai target ini terlalu ambisius?
Esther Sri Astuti dari Indef secara eksplisit menyebut sasaran delapan persen sebagai target yang sangat ambisius, mengingat rata-rata pertumbuhan 2021–2025 hanya sekitar 4,8 persen per tahun.
Apa yang dibutuhkan untuk mencapai laju pertumbuhan tersebut?
Menurut pengamat, Indonesia memerlukan sumber pertumbuhan baru di luar sektor konvensional — termasuk ekonomi digital, teknologi hijau, dan pengolahan hilir bernilai tambah tinggi — ditambah reformasi struktural di bidang fiskal, tenaga kerja, dan regulasi daerah.
Kapan pernyataan pengamat ini disampaikan?
Keterangan Esther Sri Astuti disampaikan di Jakarta pada Jumat, 4 September 2026.